Ketika masyarakat cerdas bertelekomunikasi, mereka akan memviralkan beberapa konten agar orang lain tidak tertipu dengan SMS penipuan dll.
Cyberthreat.id – Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia meluncurkan konten cerdas bertelekomunikasi yang diharapkan dapat mendidik dan membantu masyarakat terhindar dari kejahatan daring.
"Ketika masyarakat cerdas bertelekomunikasi, mereka akan memviralkan beberapa konten agar orang lain tidak tertipu dengan SMS penipuan, pembajakan WhatsApp, dan lain-lain,” ujar Ahmad M. Ramli Dirjen PPI Kominfo dalam konferensi pers di Kemkominfo TV, Selasa (30 Juni 2020).
Menurut Ramli, konten edukasi tersebut merupakan kerja sama dengan berbagai pihak seperti Badan Siber dan Sandi Negara, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Kepolisian Negara Republik Indonesia, Badan Perlindungan Konsumen Nasional, dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.
Terdapat dua isu dalam konten cerdas bertelekomunikasi yang diluncurkan dalam bentuk video tersebut. Pertama, soal kejahatan pertukaran kartu SIM (SIM Swapping) dan kejahatan One-time Password (OTP).


Kejahatan SIM Swapping adalah pengambilalihan kartu seluler korban sehingga kartu seluler baru yang aktif dan berlaku menjadi milik si penipu, bukan lagi milik korban. Modus kejahatan ini kerap digunakan penipu untuk mengeksploitasi saldo bank korban.
Sementara, kejahatan OTP yaitu berupa pembajakan kode rahasia (OTP) korban oleh penipu yang juga sama-sama bisa dipakai untuk mengeksploitasi uang elektronik atau saldong di aplikasi perbankan korban.
Berikut sejumlah imbauan di konten cerdas bertelekomunikasi:
Keterangan: artikel di atas mengoreksi artikel berita sebelumnya yang berjudul Kominfo Luncurkan Konten Cerdas Bertelekomunikasi: Literasi SIM Swapping dan OTP Fraud karena terdapat kesalahan pada infografis. Redaksi mohon maaf atas kekeliruan tersebut.
Redaktur: Andi Nugroho
Demokratisasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence; AI), pada dasarnya, adalah memperluas aksesibilitas teknologi AI ke basis pengguna yang lebih luas.
Di tengah latar belakang ini, ada aspek penting yang secara halus terjalin dalam narasinya, yaitu penanganan identitas non-manusia.
"Karena kita hidup di era digital, jangan hanya menjadi konsumen, tetapi bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih produktif," tambah Nezar.