Menghadapi era digital Indonesia tidak saja mempersiapkan SDM berkualitas, tapi talenta yang berkarakter sesuai dengan budaya dan kepribadian bangsa
Jakarta, Cyberthreat.id - Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Sri Adiningsih mengatakan Indonesia harus memiliki talenta digital yang berkarakter untuk menghadapi transformasi di era revolusi industri 4.0.
Pembangunan karakter amat vital disamping meningkatkan kualitas. Kemajuan teknologi informasi, kata Sri, terbukti telah mempengaruhi sikap dan gaya hidup manusia.
Internet of Things (IoT), smart city, big data dan artificial intelligence (AI) jangan sampai membuat anak bangsa kehilangan pegangan seperti integritas.
Baca: Indonesia Kekurangan Talenta Cybersecurity
Baca: Kominfo Buka 25 Ribu Beasiswa Talenta Digital
"Manusia itu dibangun bukan sebagai tenaga kerja saja, bukan skill saja, bukan kualitas saja, tapi manusia berkarakter dan berbudaya," kata Sri dalam diskusi bertajuk Revitalisasi Perbankan Nasional Pasca Pilpres di Jakarta, Kamis (23/05/2019).
Sri mencontohkan Jepang yang mengembangkan konsep Society 5.0 membangun manusia yang maju, melek teknologi dan hidup serba digital, tapi tetap memegang budaya Jepang terutama integritas.
Jepang punya skill luar biasa di bidang teknologi digital hingga penerapan AI ke mesin-mesin, tapi kemajuan teknologi tidak membuat mereka dikenal jahat, mencuri, hacking, menyerang orang dan sebagainya.
"Justru teknologi mereka membantu banyak manusia," ujarnya.
Bagaimana dengan pembangunan generasi digital Indonesia? Sri mengatakan Presiden Joko Widodo telah mempersiapkan langkah strategis ke arah tersebut.
Transformasi digital di Indonesia, kata dia, menimbulkan banyak sektor jasa baru, pasar baru, konsumen baru, bisnis baru berbasis digital hingga komunitas yang mendukung perekonomian nasional.
Misalnya financial 4.0 yang sudah masuk ke semua aspek mulai dari beli makanan hingga keuangan.
Baca: Indonesia Butuh 600 Ribu Talenta Digital Pertahun
Ada dua target pemerintah menurut Sri yakni kualitas SDM melalui peningkatan karakter, kebudayaan dan integritas kemudian membangun struktur ekonomi digital yang produktif dan berdaya saing.
"Sederhananya begini, kalau tanya anak-anak sekarang mereka tidak pernah ke bank. Cukup pakai hape saja semua transaksi selesai. Nah, pemerintah sadar begitulah zaman sakarang."
Demokratisasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence; AI), pada dasarnya, adalah memperluas aksesibilitas teknologi AI ke basis pengguna yang lebih luas.
Di tengah latar belakang ini, ada aspek penting yang secara halus terjalin dalam narasinya, yaitu penanganan identitas non-manusia.
"Karena kita hidup di era digital, jangan hanya menjadi konsumen, tetapi bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih produktif," tambah Nezar.