Privy, meraih pendanaan seri B senilai US$17,5 juta atau setara Rp240 miliar dari modal ventura terkemuka global GGV Capital.
Cyberthreat.id – Perusahaan rintisan penyedia layanan tanda tangan serta identitas digital asal Indonesia, Privy, meraih pendanaan seri B senilai US$17,5 juta atau setara Rp240 miliar dari modal ventura terkemuka global GGV Capital.
Selain GGV Capital, sebelumnya Privy telah mendapatkan kepercayaan dari investor- investor lainnya seperti Telkomsel Mitra Inovasi, MDI Ventures, Mandiri Capital, Gunung Sewu Group, Endeavour Catalyst, dan Buana Sejahtera Group.
“Privy memiliki modal yang kuat dalam menyediakan layanan identitas digital, dengan tim yang memiliki pengalaman gabungan di bidang hukum, regtech, fintech, dan keamanan siber. Fokus tim pada produk, privasi, dan keamanan akan memberikan landasan yang kuat untuk pertumbuhan masa depan perusahaan,” kata Managing Partner di GGV Capital Jenny Lee dalam keterangannya, Jumat (29 Oktober 2021) dikutip dari Antaranews.com.
Dengan dana segar tersebut, Privy berencana memperluas cakupan infrastruktur TI dan keamanan layanannya. Privy memproyeksikan transaksi harian akan meningkat drastis dari 100.000 per hari menjadi 800.000 per hari hanya dalam dua tahun.
Privy sangat mengapresiasi suntikan dana dari GGV Capital karena bisa membawa perusahaan besutan anak bangsa memiliki potensi berkembang ke panggung global.
“Mulai hari ini, kami memiliki mitra baru yang luar biasa untuk membawa Privy ke panggung global,” ujar CEO Privy Marshall Pribadi.
Saat ini, Privy telah menyediakan layanan identitas digital dan tanda tangan digital untuk ribuan perusahaan ternama di Indonesia, termasuk perusahaan-perusahaan multinasional seperti Zurich, Manulife, ISS, WWF, Kelly Services, dan Phillip Morris.
Privy telah menjadi perusahaan pertama yang lolos dalam Regulatory Sandbox Bank Indonesia (BI) dan kini telah melayani berbagai bank besar yang beroperasi di Tanah Air.
Contohnya seperti BRI, BNI, Mandiri, CIMB Niaga, Nobu Bank, serta Panin Bank yang terbantu dalam segi transaksi berkat layanan tanda tangan digital oleh Privy.[]
Demokratisasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence; AI), pada dasarnya, adalah memperluas aksesibilitas teknologi AI ke basis pengguna yang lebih luas.
Di tengah latar belakang ini, ada aspek penting yang secara halus terjalin dalam narasinya, yaitu penanganan identitas non-manusia.
"Karena kita hidup di era digital, jangan hanya menjadi konsumen, tetapi bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih produktif," tambah Nezar.