Sebagian bisnis kecil di Nigeria mengeluhkan hambatan operasional yang selama ini mengandalkan platform media sosial Twitter.
Cyberthreat.id – Sebagian bisnis kecil di Nigeria mengeluhkan hambatan operasional yang selama ini mengandalkan platform media sosial Twitter.
Ogechi Egemonu, pengusaha berbasis di Lagos, Nigeria, mengatakan dalam sepekan biasanya dia bisa mendapatkan 500.000 naira (US$1.219) untuk barang-barang seperti jam tangan, sepatu, dan tas tangan. Namun, kini penjualan menurun.
“Media sosial adalah tempat saya makan. Saya bergantung pada medsos untuk mata pencaharian saya,” kata perempuan itu kepada Reuters, Senin (14 Juni 2021).
Survei NOI memperkirakan ada 39,6 juta orang Nigeria menggunakan Twitter, di mana 20 persennya dipakai sebagai medium untuk berbisnis dan 18 persen untuk mencari pekerjaan.
Pemerintah memblokir Twitter sejak 4 Juni lalu dan belum diketahui sampai kapan berlangsung. Pemblokiran dilakukan setelah cuitan dari Presiden Muhammadu Buhari tentang penindakan tegas terhadap kelompok separatis dihapus.
Pekan lalu, Menteri Informasi Nigeria, Lai Mohammed, menekankan agar semua perusahaan media sosial mendaftarkan diri dan mendapatkan lisensi lokal jika ingin beroperasi di negara tersebut.[]
Demokratisasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence; AI), pada dasarnya, adalah memperluas aksesibilitas teknologi AI ke basis pengguna yang lebih luas.
Di tengah latar belakang ini, ada aspek penting yang secara halus terjalin dalam narasinya, yaitu penanganan identitas non-manusia.
"Karena kita hidup di era digital, jangan hanya menjadi konsumen, tetapi bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih produktif," tambah Nezar.