Situs web yang diubah rute DNS oleh para peretas ini merupakan situs web yang digunakan untuk bisnis lokal, situs berita, juga Google.lk dan Oracle.lk.
Cyberthreat.id – Hacktivist (istilah untuk aktivis berbasis internet) mengalihkan rute situs web dengan domain Srilanka (.lk), termasuk Google.lk, ke sebuah halaman web yang menampilkan protes masalah-masalah sosial di negara itu.
Dikutip dari ZD Net, insiden itu terjadi pada hari Sabtu lalu (6 Februari 2021), dua hari setelah negara itu memperingati hari kemerdekaan.
Situs web yang diubah rute DNS oleh para peretas ini merupakan situs web yang digunakan untuk bisnis lokal dan situs berita. Selain itu, dua domain dengan profil tinggi seperti Google.lk dan Oracle.lk juga menjadi korban.
Pengakses situs web yang menjadi korban serangan diarahkan ke sebuah laman yang mempertanyakan apakah Srilanka benar-benar sudah merdeka dengan sejumlah masalah sosial yang masih membelit negara itu. Dicontohkan, seperti masalah industri perkebunan teh lokal, kebebasan pers, sistem peradilan dan politik yang korup, serta masalah ras, minoritas, dan agama, seperti terlihat di bawah ini.

Serangan ini berhasil dideteksi oleh pihak berwenang hanya beberapa jam setelah dimulai dan langsung memblokirnya.
NIC.lk, sebagai administrator domain tingkat atas nasional negara itu, mengkonfirmasi serangan itu melalui sebuah postingan di situsnya pada hari sabtu lalu.
“Masalah dengan Sistem Pendaftaran Domain .lk muncul pada pagi hari Sabtu, 6 Februari, yang memengaruhi beberapa domain yang terdaftar di .LK, dan masalah tersebut diselesaikan sekitar pukul 8.30 pagi,” ungkap NIC.lk.
Namun, detail lengkap mengenai serangan deface ini dan jumlah domain yang terpengaruh belum dipublikasikan, dan juru bicara NIC.lk enggan memberikan komentar apapun terkait insiden ini.
Serangan deface ini merupakan insiden siber kedua yang memengaruhi organisasi NIC.lk. Pada 2013, peretas menggunakan serangan injeksi SQL untuk membobol basis datanya dan mencuri data tentang pemilik domain .lk.[]
Editor: Yuswardi A. Suud
Demokratisasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence; AI), pada dasarnya, adalah memperluas aksesibilitas teknologi AI ke basis pengguna yang lebih luas.
Di tengah latar belakang ini, ada aspek penting yang secara halus terjalin dalam narasinya, yaitu penanganan identitas non-manusia.
"Karena kita hidup di era digital, jangan hanya menjadi konsumen, tetapi bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih produktif," tambah Nezar.