Smart vending machine OVO Smartcube memiliki kemampuan analisis data sehingga mengetahui kebiasaan dan karakter konsumen
Jakarta, Cyberthreat.id - Platform penyedia layanan pembayaran OVO meluncurkan smart vending machine di beberapa titik di Jakarta dan sekitarnya.
Smart vending machine yang diberi nama OVO Smartcube diklaim sebagai terobosan baru. Di Indonesia, vending machine yang lazim dikenal adalah sebuah box yang menjual air mineral dan minuman dingin biasa.
OVO Smartcube disebut-sebut memiliki kemampuan berinovasi karena bisa melakukan analisa data lalu menyuguhkan pengalaman digital interaktif bagi pengguna.
Saat ini, OVO SmartCube baru tersedia di Universitas Pelita Harapan, Lippo Mall Puri serta beberapa titik lain.
"Mesin ini mampu menyesuaikan produk serta layanan dengan kebutuhan dan kebiasaan pengguna," ujar Chief Data Officer OVO, Vira Shanty, dalam keterangan pers, Jumat (5 Juli 2019).
OVO Smartcube, kata dia, telah menerapkan sistem pembayaran yang terintegrasi sehingga membangun interaksi yang jauh lebih kuat dengan pelanggan.
Mesin ini juga mampu menyediakan informasi maupun data bermanfaat bagi mitra bisnis dan pelanggan menggunakan data analitik. Bahkan, informasi yang disuguhkan secara real-time.
"Misalnya kapan pembelian dilakukan, apa yang dibeli oleh pelanggan, sehingga dapat dimanfaatkan oleh brand mitra untuk memberikan penawaran yang sesuai dengan target."
Vira mengatakan OVO Smartcube membuktikan bahwa mereka sangat mendukung program pemerintah yakni memperbesar dan memperluas masyarakat cashless society di Indonesia.
Data terbaru Bank Indonesia menyebutkan transaksi nontunai/cashless transaction telah tumbuh lebih dari 12 persen yoy, dengan transaksi e-money nonbank mencatat kenaikan lebih dari 200 persen.
"Data ini menunjukkan bahwa semakin banyak orang Indonesia mengadopsi transaksi nontunai dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari e-commerce hingga transportasi, serta transaksi makanan dan minuman," kata dia.
Demokratisasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence; AI), pada dasarnya, adalah memperluas aksesibilitas teknologi AI ke basis pengguna yang lebih luas.
Di tengah latar belakang ini, ada aspek penting yang secara halus terjalin dalam narasinya, yaitu penanganan identitas non-manusia.
"Karena kita hidup di era digital, jangan hanya menjadi konsumen, tetapi bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih produktif," tambah Nezar.