Kamu suka narsis di media sosial? Sebaiknya kini mulai perlahan dikurangi atau berhenti dari perilaku narsis di medsos.
Jakarta, Cyberthreat.id – Kamu suka narsis di media sosial? Sebaiknya kini mulai perlahan dikurangi atau berhenti dari perilaku narsis di medsos.
Founder dan CEO Alvara Research Hasannudin Ali mengatakan, ada bahaya yang mengintai bagi para pengguna medsos yang suka narsis, yaitu mulai pencurian data pribadi, hingga tindakan kriminal.
“Dengan sering meng-upload sesuatu di medsos, orang lain yang punya maksud tertentu akan dengan mudah mengenali kita. Mulai dari fisik sampai dengan lokasi. Itu yang harus di perhatikan” ujar Hassan saat dihubungi Cyberthreat.id, Selasa (20 Agustus 2019).
Menurut Ali, tren narsis di kalangan generasi milenial di medsos telah berlangsung lama, kurang lebih empat tahun lalu. Perilaku narsis muncul karena mereka ingin menunjukkan eksistansi dirinya di medsos.
Sayangnya, saat ini narsis sudah mengarah kepada pamer mengenai apa yang sudah dicapainya. “Kebanyakan milenial sekarang suka travelling, tapi banyak yang travelling hanya untuk pamer saja,” ujar dia.
Terkait dengan kejahatan online tersebut pernah dialami Wafa Ariani, warga Jakarta. Wafa mengatakan, foto dirinya di medsos dipakai orang lain untuk menipu di medsos.
“Fotoku pernah dipakai sama orang di Twitter buat nipu orang dan orang yang ketipu itu minta ganti rugi sama aku. Padahal aku enggak tahu apa-apa. Dan, jumlahnya tuh enggak sedikit,” tutur Wafa.
Sejah kejadian itu, ia menjadi lebih berhati-hati dalam mengunggah foto dan memilih untuk mengubah peraturan medsosnya menjadi privat.
Demokratisasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence; AI), pada dasarnya, adalah memperluas aksesibilitas teknologi AI ke basis pengguna yang lebih luas.
Di tengah latar belakang ini, ada aspek penting yang secara halus terjalin dalam narasinya, yaitu penanganan identitas non-manusia.
"Karena kita hidup di era digital, jangan hanya menjadi konsumen, tetapi bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih produktif," tambah Nezar.